~ Aku dan Dirimu, Sahabatku ~

Duhai sahabat, apakah yang membuatmu terpikat??
Hingga kini Allah berkenan membuat kita terikat
Menyucikan segala rasa yang semakin lekat
Ah, manisnya melampaui secangkir cokelat hangat

Haha..
Teringat dahulu hidupku sahabat
Semua terasa berpusar di satu tempat
Diselingi oleh aktivitas padat
Kampus-kos-aksi-rapat
Saat itu masih terasa memikat (dreaming day)

Kemudian, waktu membawaku pada kehidupan yang kini
Dunia para orang dewasa, katanya
Tapi hanya aku yang dianggap kanak
Karna belum ada engkau di sisiku (sigh)

Pernahkah berpikir apa yang membawaku padamu??
Kesederhanaanmukah??
Keta’atanmukah??
Perjuanganmukah??
Atau karna bait-bait do’a diantara sujudmu??

Allah membawaku padamu,
Karna kau adalah kau
Dengan segala yang Allah anugerahkan padamu
Karna kau adalah kau
Makhluk indah yang memahami segala keterbatasanku

Penerimaanmu yang luar biasa terhadapku
Hingga hanya kau lah yang sanggup mengubah diriku
Dari seorang biasa menjadi inspirator dunia
Menurunkan generasi pejuang peradaban kedua..


ps: teruntuk Y & S,
sebuah bingkisan kecil kukirimkan,
“Semoga Allah memberi berkah kepadamu dan atasmu serta mengumpulkan kamu berdua dalam kebaikan.”
(HR. At- Tirmidzi )

warmest regards,

bella burhani
[ID YM: viva_rosetti]
http://anabelrosetti.wordpress.com/
Halqoh Online on facebook
Halqoh Online

special thanks:
1. kepada penghuni planet khilipton, atas sumbangan fotonya yang selalu fenomenal
2. kepada seorang sahabat yang memberikan “smoothing touch” pada judul puisi ini

~ Kronologis Krisis Century Gate ~

Kronologis Krisis Century Gate

Dikucurkannya modal penjaminan untuk Bank Century (century) sebesar Rp 6,76 triliun berdasarkan hasil pembahasan dan keputusan KSSK berbuah masalah. Keputusan penggelontoran dana fasilitas pinjaman jangka pendek (FPJP) dan Penyertaan Modal Sementara (PMS) oleh Bank Indonesia dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dipertanyakan banyak pihak, baik dari sisi masyarakat, mau Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dengan munculnya usulan hak angket kasus century. Alasan penetapan Bank Indonesia bahwa Bank Century sebagai Bank Gagal yang berdampak sistemik juga disinyalir penuh rekayasa dan memiliki dasar yang kurang kuat.

Terkaitnya isu Century dengan isu besar pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yaitu adanya indikasi keterlibatan pejabat teras Kepolisian semakin menempatkan kasus Century sebagai kasus prioritas yang harus dituntaskan. Kasus yang ditengarai sebagai cikal-bakal munculnya kekisruhan politik dan hukum ini harus didudukkan dengan terang agar publik secara luas mengetahui dan dapat bersama-sama mengawal penuntasan dari kasus ini.

Inilah sejarah panjang Century Gate

Kisah Bank Century berawal dari tahun 1989 ketika didirikan, hingga 20 November 2008
saat ditetapkan oleh Bank Indonesia sebagai Bank Gagal yang memiliki dampak sistemik.

30 Mei 1989
PT Bank Century Tbk didirikan berdasarkan Akta No. 136 tanggal 30 Mei 1989. Pada saat itu nama yang digunakan sebagai badan usaha adalah PT. Bank CIC (Century Intervest Corp) International Tbk.

16 April 1990
Bank Century memperoleh izin usaha sebagai Bank Umum dari Menteri Keuangan Republik Indonesia melalui Surat Keputusan No. 462/KMK.013/1990. Pada tahun inilah Bank Century memulai operasi komersialnya.

22 April 1993
Bank Century memperoleh peningkatan status menjadi Bank Devisa dari Bank Indonesia melalui Surat Keputusan No. 26/5/KEP/DIR.

27 November 2001
Keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) tanggal 27 November 2001 yang menyetujui Akuisisi Chinkara atas Bank Picco dan Bank Danpac meskipun Chinkara tidak memenuhi poin-poin berikut:
1. Belum ada publikasi rencana akuisisi di media massa.
2. Chinkara baru didirikan tanggal 8 Oktober 1999 sehingga belum dapat menyampaikan laporan keuangan selama 3 tahun berturut-turut.
3. Rekomendasi dari negara asal tidak secara jelas menginformasikan performance perusahaan.
Indikasi Pelanggaran: Melanggar aturan SK Direksi BI No.21/51/KEP/DIR tanggal 14 Mei 1999 tentang persyaratan dan tata cara merger, konsolidasi dan akuisisi bank umum.

14 Desember 2001
Sesuai dengan permintaan Bank Indonesia melalui surat Bank Indonesia tanggal 14 Desember 2001 dan pertemuan dengan Bank Indonesia pada tanggal 16 April 2004, manajemen Bank dan pemegang saham pengendali First Gulf Asia Holdings Limited (d/h Chinkara Capital Limited) setuju untuk melakukan merger dengan PT Bank Pikko Tbk dan PT Bank Danpac Tbk untuk menghasilkan sinergi dan memperkuat permodalan bank hasil merger.
Proposal merger tersebut disampaikan kepada Bank Indonesia pada tanggal 26 April 2004.

21 Mei 2004
Bank, PT Bank Danpac Tbk dan PT Bank Pikko Tbk, telah menandatangani kesepakatan untuk melakukan tindakan hukum penyatuan kegiatan usaha dengan cara Penggabungan atau Merger dimana Bank Century sebagai “Bank Yang Menerima Penggabungan” dan PT Bank Danpac Tbk dan PT Bank Pikko Tbk sebagai “Bank Yang Akan Bergabung”.

7 September 2004
Bank mengajukan Pernyataan Penggabungan kepada BAPEPAM dalam rangka penggabungan usaha dengan bank-bank yang menggabungkan diri dan telah mendapat pemberitahuan efektifnya penggabungan tersebut sesuai dengan surat Ketua BAPEPAM No. S.3232/PM/2004 tanggal 20 Oktober 2004.

22 Oktober 2004
Berdasarkan Akta No. 158 tanggal 22 Oktober 2004 dari Buntario Tigris Darmawa NG,
S.H, S.E, notaris di Jakarta, Bank dan bank-bank yang menggabungkan diri yang terdiri
dari PT Bank Pikko Tbk dan PT Bank Danpac Tbk dengan persetujuan Rapat Umum
Pemegang Saham Luar Biasa telah sepakat melakukan peleburan usaha.

28 Desember 2004
Bank Century berubah nama dari PT Bank CIC Internasional Tbk menjadi PT Bank Century Tbk. berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Bank Indonesia No. 6/92/KEP.GBI/2004.

28 Februari 2005
Hanya dalam 2 bulan setelah proses merger, posisi CAR Bank Century negatif (-132%).

31 Oktober 2005
Sesuai dengan ketentuan seharusnya BI telah menetapkan Bank Century pada status bank
dalam pengawasan khusus, yaitu sejak tanggal 31 Oktober 2005 (setelah hasil pemeriksaan BI atas Bank Century dipublikasikan). Namun atas usul Direktur Pengawasan Bank 1 dan disetujui oleh Deputi Gubernur 6, Bank Century hanya dikenai status Bank dalam pengawasan intensif. Terhadap pembiaran ini, terjadi penundaan penetapan status Bank dalam pengawasan khusus terhadap Bank Century selama kurang lebih 3 tahun (31 Oktober 2005 – 6 November 2008)

29 Desember 2005
Bank Century dinyatakan sebagai Bank Dalam Pengawasan Intensif sesuai dengan surat BI No. 7/135/DPwB1/PwB11/Rahasia. Hal ini karena Surat-surat Berharga (SSB) valuta asing dan penyaluran kredit yang berpotensi menimbulkan masalah. Status ini terus disandang oleh Bank Century hingga tanggal 6 November 2008, saat ditetapkan menjadi Bank Dalam Pengawasan Khusus (DPK).

30 September 2008
Posisi CAR Bank Century saat mengajukan FPJP sebesar positif 2,35%. Pada saat tersebut berlaku ketentuan BI (PBI) No. 10/26/PBI/2008 bahwa fasilitas FPJP diberikan kepada bank yang memiliki CAR minimal 8%. Dengan demikian Bank Century sebenarnya tidak memenuhi syarat menerima FPJP.

27 Oktober 2008
Sejak bulan Juli 2008, Bank Century (BC) telah mengalami kesulitan likuiditas dan
bergantung pada pinjaman uang antar-bank (PUAB). Karena PUAB sulit diperoleh, hingga tanggal 27 Oktober 2008, BC telah melanggar pemenuhan Giro Wajib Minimum (GWM) minimal 5% dari dana pihak ketiga (DPK).

31 Oktober 2008
Posisi CAR Bank Century per-31 Oktober 2008 negatif (-3,53%)

6 November 2008
PT Bank Century Tbk ditetapkan oleh Bank Indonesia sebagai Bank Dalam Pengawasan Khusus. Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 6/9/PBI/2004 tanggal 26 Maret 2004, No. 7/38/PBI/2005 tanggal 10 Oktober 2005 dan No. 10/27/PBI/2008 tanggal 30 Oktober 2008, status ini ditetapkan paling lama 6 (enam) bulan.

13 November 2008
PT Bank Century Tbk mengalami keterlambatan penyetoran dana pre-fund untuk mengikuti kliring dan dana di Bank Indonesia yang telah berada dibawah saldo minimal, sehingga Bank di-suspend untuk transaksi kliring pada hari tersebut, pada tanggal 14 Nopember 2008 sampai dengan 20 Nopember 2008, transaksi kliring sudah dibuka kembali namun terjadi penarikan dana nasabah secara besar-besaran akibat turunnya tingkat kepercayaan yang timbul sebagai akibat dari pemberitaan-pemberitaan seputar ketidakikutsertaan Bank pada kliring tanggal 13 Nopember 2008.

14 November 2008
BI mengubah PBI tentang persyaratan pemberian FPJP dari semula minimal CAR 8% menjadi CAR positif. Hal ini diduga untuk memuluskan Bank Century menggunakan fasilitas FPJP.

Berdasarkan posisi CAR Bank Century per-30 September (positif 2,35%) BI menyatakan Bank Century memenuhi syarat. Padahal posisi CAR Bank Century per-31 Oktober 2008 justru negatif (-3,53%) dan tidak memenuhi persyaratan bahkan terhadap PBI yang telah dirubah per-14 November 2008.

BI kemudian menyetujui pemberian fasilitas FPJP kepada Bank Century per-tanggal 14 November 2008 yaitu sebesar Rp 689,39 miliar, dengan perincian sebagai berikut:
Tanggal 14 November 2008 dicairkan sebesar Rp 356,81 miliar
Tanggal 17 November 2008 dicairkan sebesar Rp 145,26 miliar
Tanggal 18 November 2008 dicairkan sebesar Rp 187,32 miliar

20 November 2008
Posisi CAR Bank Century negatif (-35,92%). Berdasarkan Surat No. 10/232/GBI/Rahasia, Bank Indonesia menetapkan PT Bank Century Tbk sebagai Bank Gagal yang ditengarai berdampak sistemik.

21 November 2008
Sesuai dengan Perpu No. 4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) melalui Keputusan No. 04/KSSK.03/2008 tanggal 21 Nopember 2008 menetapkan PT Bank Century Tbk sebagai bank gagal yang berdampak sistemik dan menyerahkan penanganannya kepada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Sesuai dengan Pasal 40 UU No. 24 Tahun 2004 tentang LPS, terhitung sejak LPS melakukan penanganan bank gagal, maka LPS mengambil alih segala hak dan wewenang RUPS, kepemilikan, kepengurusan, dan/atau kepentingan lain pada bank dimaksud.

31 Desember 2008
Posisi CAR Bank Century negatif (19,21%)

20 November 2009
Hasil Audit Investigatif BPK yang diserahkan kepada DPR RI memaparkan 8 temuan penting, sejak kisah meleburnya (merger) 3 Bank hingga penggelapan dana di Bank Century.

Solusi total Century Gate

Seringkali kita orang awam berpendapat bahwa yang salah dalam setiap kasus penyelewengan adalah karena orang yang diberikan kekuasaan bukanlah orang yang amanah dan tidak berakhlak mulia. Padahal bukan di situ esensinya. Mereka yang di atas sana justru sangat amanah dalam hal menjalankan Undang-Undang meskipun itu salah.

Penetapan bank Century sebagai Bank gagal berdampak sistemik oleh BI sehingga perlu ada kebijakan dana talangan untuk menyelamatkannya semata-mata hanya didasarkan pada analisis yang bersifat psikologi pasar dan mengesampingkan analisis kuantitatif terhadap kondisi Bank Century. Sebab, secara kuantitatif Bank Century semestinya langsung ditutup dan tidak berhak mendapatkan dana talangan. (Ichsanuddin Noorsy)

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terkesan angkat tangan terhadap dana yang dikucurkan bagi Bank Century. Kepala eksekutif LPS, Firdaus Djaelani mengatakan, pihaknya telah mendiskusikan setiap penambahan modal yang digunakan untuk penyehatan PT Bank Century Tbk (Century) kepada Bank Indonesia (BI).

Menurutnya, dana yang sudah dikeluarkan sebesar Rp 6,7 triliun kepada Bank Century didasarkan atas penilaian BI. Sebelum dilakukan penambahan modal LPS berdiskusi dengan BI terlebih dahulu.

Berdasarkan perhitungan neraca tanggal 31 Oktober 2008, CAR Century sebesar minus 3,25 persen telah anjlok menjadi minus -35,92 persen dan untuk penyertaan modal tersebut CAR Century didorong menjadi 10 persen. Hal tersebut sesuai juga dengan UU yang menyatakan LPS dapat menyuntikan dananya untuk mendongkrak CAR menjadi 10 persen. Ia pun memaparkan bagaimana urutan dari penyuntikan modal oleh LPS. Pada bulan Desember 2008, lanjut Firdaus, LPS kembali menyuntikan dananya sebesar Rp 2,201 triliun untuk menutup kebutuhan likuidiatas sampai dengan 31 Desember 2008. Pada bulan Februari 2009, dan Juli 2009 LPS juga telah menyuntikan dananya kembali sebesar Rp 1,55 triliun dan Rp 630 miliar yang juga dikarenakan untuk memenuhi kebutuhan CAR. Semua totalnya Rp 6,7 triliun dan merupakan dana LPS.

Lalu ke mana larinya dana-dana tersebut; kepada siapa dan untuk keperluan apa? Ironisnya, pada saat yang sama, ribuan nasabah kecil dari Bank Century ini terus melakukan protes karena uang mereka tidak kunjung kembali. Padahal korupsi adalah tindakan yang diharamkan Islam dan menjadi kewajiban bagi setiap Muslim untuk mencegahnya. Dalam hal ini, penguasa menjadi pilar utamanya. Bahkan kewajiban utama ada di pundak penguasa untuk membersihkan seluruh tindak kriminal “korupsi” di jajaran dan struktur pemerintahannya, yang posisinya adalah pelayan rakyat. Pasalnya, selain haram secara syar’i, korupsi juga mengakibatkan hak-hak rakyat terabaikan. Karena “virus berbahaya” ini, pada akhirnya kekuasan tidak menjadi sarana untuk melayani rakyat, tetapi malah menjadi alat menipu dan menzalimi rakyat demi kemewahan pribadi atas nama rakyat. Karena itu, tidak salah jika sebagian pengamat menilai, seharusnya Presiden SBY hadir bergabung dengan masyarakat yang peduli pada pemberantasan korupsi, bukan malah mengeluarkan pernyataan yang seolah-oleh menghalangi gerakan antikorupsi.

Inilah aksi heroik sebuah pemerintahan di negeri muslim menyelamatkan sebuah badan usaha riba. Mulai dari dibuatnya sebuah UU demi legalnya usaha penyelamatan tersebut hingga sikap tidak pedulinya LPS.

Skandal Bank Century adalah rentetan dari rapuhnya sistem perbankan/keuangan nasional yang berbasis ribawi (bagian dari sistem ekonomi kapitalis) dan birokrat yang berjiwa korup. Adapun pengertian bunga (Interest/fa’idah) adalah tambahan yang dikenakan dalam transaksi pinjaman uang (al-qardh) yang di per-hitungkan dari pokok pinjaman tanpa mempertimbangkan pemanfaatan/hasil pokok tersebut,berdasarkan tempo waktu,diperhitungkan secara pasti di muka,dan pada umumnya berdasarkan persentase.

Praktek pembungaan uang saat ini telah memenuhi kriteria riba yang terjadi pada jaman Rasulullah SAW, Ya ini Riba Nasi’ah. Dengan demikian, praktek pembungaan uang ini termasuk salah satu bentuk Riba, dan Riba Haram Hukumnya. Praktek Penggunaan tersebut hukumnya adalah haram,baik di lakukan oleh Bank, Asuransi,Pasar Modal, Pegadian, Koperasi, Dan Lembaga Keuangan lainnya maupun dilakukan oleh individu. (MUI)

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu(sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (TQS. Al Baqarah [2]: 275)

Sudah seharusnya keyakinan kita saat ini beralih, dari sistem ekonomi bobrok yang bernama kapitalis menuju sistem ekonomi yang bersumbar dari Zat Yang Maha Adil. Itulah Sistem Ekonomi Islam.

Skandal ini juga menjadi momentum pembuktian untuk kesekian kalinya, bahwa sistem sekular dan rezim korup yang tengah berkuasa memang tidak bisa dipercaya. Karena itu, sistem dan rezim yang korup ini harus segera ditinggalkan.

Jika kita menghendaki adanya perubahan, maka kita pula harus memahami perubahan seperti apa yang hendak diwujudkan, dan bagaimana pula caranya agar perubahan tersebut bisa diwujudkan. Tentu saja rakyat negeri ini yang mayoritas Muslim sejatinya menghendaki perubahan ke arah Islam dan dengan cara-cara yang juga islami. Perubahan ke arah Islam tentu mensyaratkan dua hal: (1) mengubur dalam-dalam sistem dan rezim korup, yang notabene sekular; (2) menegakkan sistem dan pemerintahan Islam, yakni syariah dan Khilafah.

Cara-cara islami untuk mewujudkannya harus mengikuti metode Nabi saw. yang bersifat damai dan tidak anarkis. Tentu bukan sekadar dengan demonstrasi dan aksi keprihatinan; juga bukan dengan ‘revolusi jalanan’. Pasalnya, mengganti rezim sekaligus sistem yang korup tidak cukup dengan mengganti individu-individu penguasa/pejabatnya (karena negara bukan hanya sekumpulan individu penguasa/pejabat), melainkan juga harus dengan mengganti sistem/perundang-undangan. Semua itu harus diawali dengan cara mendidik masyarakat dengan akidah dan syariah Islam, yang akan menjadikan mereka memiliki pemikiran dan perasaan islami. Jika mayoritas masyarakat telah memiliki pemikiran dan perasaan islami, pasti mereka dengan sendirinya akan terdorong untuk menuntut penerapan akidah dan syariah Islam itu secara kâffah dalam seluruh aspek kehidupan (mencakup aspek ritual, spiritual, ekonomi, politik, sosial, militer, dll). Jika sudah demikian, maka yang dibutuhkan adalah melakukan langkah thalab an-nusrah (menggalang pertolongan) dari simpul-simpul kekuasaan atau pihak-pihak yang memiliki sifat yang bisa memberikan man’ah (perlindungan) dan kemampuan mewujudkan apa yang menjadi keinginan umat. Sesungguhnya cara inilah yang telah ditempuh Baginda Rasulullah saw. dalam melakukan perubahan sosial dan politik ke arah Islam.

Maka ingatlah:

Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran), baginya kehidupan yang sempit dan di akhirat kelak Kami akan membangkitkannya dalam keadaan buta.
(QS Thaha [20]: 124)

Juga terhadap celaaan ini:

Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50)

Wallahu’alam bisshowab

warmest regards,

bella burhani
[ID YM: viva_rosetti]
http://anabelrosetti.wordpress.com/
Halqoh Online on facebook
Halqoh Online

special thanks:
1. seorang sahabat yang telah mengirimkan bahan materi pak Ichsanuddin Noorsy, sehingga tulisan ini bisa diolah dan diramu
2. seorang sahabat yang dengan setia mengurutkan tanggal-tanggal penting di saat rasa kantuknya menyerang
3. kepada web rumah pengetahuan
4. kepada web hizbut tahrir

Bukan Tentang “Angkuh, Iri, Dengki dan Syirik”

AIDS, hingga kini masih membuat yang mendengarnya meringis,
Sering disangka sebagai kutukan iblis,
AIDS, merajalela membawa suasana mencekam,
Mendatangi tua, muda, kaya, papa, tak mengenal ras dan usia
AIDS, datang pada segala bangsa dengan kepercayaan dan budaya yang berbeda
Menyisakan suasana kekhawatiran yang mendalam.

AIDS, kata orang adalah kutukan
Bagi mereka para pendosa di lembah kehinaan

AIDS, menyerang pada bayi lemah, yang diturunkan dari ibu pada anaknya
Dari jarum suntik para penikmat narkoba,
Dari kecerobohan dokter gigi pada pasiennya,
Dari hubungan terlarang antar manusia
Dari suami pada istrinya yang mulia
Dari istri durhaka pada suaminya yang setia

Marah merah para pemuda
Berteriak pada keadaan
Atas dasar apa ini ditimpakan??

Karna salah apa harus merasakan??
Antara pendosa dan korban, mulai tak bisa dibedakan..

Mereka mneriakan solusi yang mereka inginkan,
Agar bisnis tetap berjalan..

Narkoba berjaya, prostitusi dilegalkan dan bayi di tempat pembuangan
Semua jadi satu, bercampur aduk..

Tinggal tunggu saatnya kehancuran,
Bagi para penginkar hukum Sang Pengatur Kehidupan,
Pengagung aturan buatan,
Yang eksis demi hawa nafsu keabadian..

“Jikalau sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan brtakwa, pastilah kami akan limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”
(QS. An-Nahl: 112)

Dari Ibnu Abbas r.a bahwa Rasulullah saw. bersabda,

“Tidaklah seorang hamba berzina tatkala ia sebagai seorang mu’min; dan tidaklah ia mencuri, manakala tatkala ia mencuri sebagai seorang beriman; dan tidaklah ia meneguk arak ketikaia meneguknya sebagai seorang beriman; dan tidaklah ia membunuh (orang tak berdosa), manakala ia membunuh sebagai seorang beriman.”

Tulisan ini didedikasikan untuk para pejuang syari’ah dan khilafah,
Diantara pekik, teriak, usaha dan do’a yang mereka perjuangkan demi kembalinya peradaban kedua yang mulia..
Dan untuk seseorang yang telah memberikan waktu luangnya demi mengoreksi dan memberi
“finishing touch” pada catatan kecil ini.

warmest regards,

bella burhani
[ID YM: viva_rosetti]
http://anabelrosetti.wordpress.com/
Page Halqoh Online on FB
web Halqoh Online

~ Me, My Vincent and Our Journey ~

“ Aku capek, Vi”

“Rasa-rasanya setiap orang akan lebih bahagia tanpa aku.”

“Tanpa kehadiranku di sisi mereka, tanpa ada aku yang menyusahkan mereka.”

“Aku capek karna selalu membuat susah guruku.”

“Aku capek menyakiti orang-orang yang kusayangi, menyakiti kamu, orangtuaku, sahabat-sahabatku”

Dan kau hanya tersenyum mendengarkan penuh perhatian.

Vincentku yang tersayang, yang kusayangi melebihi rasa cintaku pada diriku sendiri.

Vincent yang bagiku adalah mentari yang selalu menemani perjalanan si bintang.

Vincent yang selalu memahamiku, membantuku meski ia sendiri lelah.

Vincentku yang berharga, yang tanpanya aku hilang esensi seperti uap air, getasnya kayu , mengering dan terlupakan.

Abel sepupuku tersayang, begitu kau selalu memanggilku.

**

“Aku ingin pergi, Vi.”

“Pergi jauh dari mereka semua, dari orang-orang yang selama ini kusayangi, tapi kemudian kusakiti dan mereka pun menyakiti aku.”

“Setengah diriku ingin melarikan diri dan setengahnya lagi ingin bertarung hingga usai.”

“Aku capek menyayangi orang-orang yang kupercaya kemudian tega menusukku.”

“Aku capek menyayangi orang-orang yang salah.”

“Aku capek kehilangan. Sudah cukup semua ini bagiku.”

Dan kau pun masih mendengarkan dengan penuh pengertian.

Vincentku, adalah satu-satunya orang yang mempercayaiku ketika satu bumi menafikan kata-kataku.

Kau-lah satu-satunya yang berdiri membelaku ketika semua orang mempertanyakan integritasku sebagai hamba.

Kau-lah satu-satunya yang yakin bahwa aku baik-baik saja dan selalu akan begitu.

Kau-lah mentari yang tak pernah lelah menyinari ketika si bintang mulai redup.

Abel sepupuku tersayang, begitu kau memanggilku.

***

“Aku lelah.”

“Aku berharap, suatu saat nanti akan muncul kebahagiaan bagi semua orang.”

“Dengan begitu aku akan tenang meninggalkan semuanya.”

“Suatu saat aku akan pergi dan tak akan pernah kembali lagi ke sini, ke tempat ini.”

Kau masih mendengarkanku dengan penuh kesabaran.

Di meja makan saksi bisu percakapan ini.

Ditemani kombinasi penganan kecil yang hanya bisa ditemukan di rumahmu.

Ditemani bintang gemintang kesayanganku.

Ditemani udara bercampur bau laut kesukaan kita.

Ditemani senyap kala yang lain tenggelam dalam lelap.

Abel sepupuku tersayang, begitu kau memanggilku.

****

“Abel, sepupuku tersayang”

“Biarkanlah mereka bicara, biarkanlah mereka menduga, biarkanlah mereka berprasangka dan biarkanlah mereka menganalisa.”

“Bagiku kau adalah kau. Kau yang berusaha teguh dalam perjalanan ini.”

“Tak pernah terpikir olehku bahwa kau akan melarikan diri dari pertarungan ini. Sedikitpun aku tak pernah meragukanmu dan begitulah dirimu.”

“Abel, sepupuku tersayang.”

“Apalah artinya perbedaan diantara kita?? apalah artinya kau A dan aku B??
apalah artinya bila kau ‘fight’ dan aku ‘peace’??”

“Bila yang terpenting adalah kebersamaan ini. Bila yang terpenting bagiku adalah keberadaanmu dan begitu pula sebaliknya.”

“Abel, sepupuku tersayang.”

“Bukan aku yang “menyeretmu” ke dalam jalan ini. Tapi pilihanmulah. Pilihanmu saat itu yang membawamu hingga pada masa ini. Pilihan yang kau ambil setelah berjalan terseok-seok, hilang arah dan kendali. Pilihan yang kau ambil dengan sadar. Sadar akan konsekuensinya kini.”

“Abel, sepupuku tersayang.”

“Aku tahu betapa bencinya kau pada yang telah berlalu itu. Betapa gemerlapnya hidup di zaman itu. Aku tahu kau tak pernah ingin kembali lagi pada masa itu. Meski untuk berada di jalanmu yang sekarang kau harus mengorbankan banyak hal. Begitu banyak, hingga kau tak bisa menghitungnya.“

“Abel, sepupuku tersayang.”

“Mengapa kau berpikir akan memulai perjalananmu sendiri??
Mengapa kau harus meninggalkan semua??
Mengapa kau mau menjalani itu semua dalam sepi??”

“Telah lupakah kau??
Bahwa aku lah yang akan menemani perjalananmu.
Lupakah kau pada Vincent-mu ini??
Lupakah kau betapa ku menyayangimu??
Lupakah??”

“Untuk apa menyiksa dirimu sendiri?? Aku mengenalmu. Jauh lebih mengenalmu daripada semua orang-orang itu. Untuk apa menyakiti dirimu sendiri?? Kau toh tak akan pernah bisa hidup tanpa orang-orang yang kau sayangi.”

“Marilah kita mulai bersama perjalanan ini. Perjalanan yang akan membuat kita tertegun dan kemudian tertawa kembali. Takjub akan rencana Illahi Rabbi.”

Dan aku pun tersenyum. Senyum paling indah bagi anugerah Allah di hadapanku.

*adapted from real story

catatan kecil ini ditulis dan diiringi dengan air mata. persembahan bagi orang-orang hebat di sekeliling kita karna setiap orang pasti memiliki orang-orang yang berpengaruh bagi kehidupannya. Orang-orang hebat yang selalu mendampingi perjalanan mengubah dunia tempat kita berdiri. Perjalanan yang penuh onak dan duri demi tegaknya peradaban kedua,
Khilafah alaa minhajin nubuwwah..

warmest regards,

bella burhani
[ID YM: viva_rosetti]
http://anabelrosetti.wordpress.com/
Halqoh Online on facebook
Halqoh Online

Sultan Muzaffar Saifuddin Qutuz, Pahlawan Perang Ain Jalut (25 Ramadhan 658H / 3 September 1260M)

ain_jalut
Pertempuran Ain Jalut (atau Ayn Jalut dalam bahasa Arab : عين جالوت yang artinya Mata Jalut) terjadi pada tanggal 3 September 1260 di Palestina antara Bani Mameluk (Mesir) yang dipimpin oleh Qutuz dan Baibars berhadapan dengan tentara Mongol pimpinan Kitbuqa.

Banyak ahli sejarah menganggap pertempuran ini termasuk salah satu pertempuran yang penting dalam sejarah penaklukan bangsa Mongol di Asia Tengah dimana mereka untuk pertama kalinya mengalami kekalahan telak dan tidak mampu membalasnya dikemudian hari seperti yang selama ini mereka lakukan jika mengalami kekalahan.

Di 10 hari yang terakhir dalam bulan Ramadhan, kita sering diingatkan dengan satu malam, yaitu malam yang menyamai 1000 bulan. Pastinya akan muncul pemburu-pemburu Lailatul Qadar di 10 malam yang terkahir ini. Barangsiapa beribadah pada malam tersebut, maka akan tercatat amalannya seperti dia membuat amalan selama 1000 bulan, Maha Agung dan Maha Kasihnya Allah yang tiada tuhan selainnya menganugerahkan hadiah luar biasa untuk diraih oleh umat Muhammad. Semoga kita semua melipatgandakan amalan kita di penghujung Ramadhan ini dan seterusnya pada bulan–bulan yang lain. Marilah kita bersama-sama mengingat kembali sejarah generasi terdahulu dimana hidup mereka penuh dengan amalan kebaikan dan tunduk patuh kepada perintah Allah. Mereka melakukan kewajiban jihad, sebagaimana mereka melaksanakan kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan.

Apa yang ingin saya share di sini adalah tentang satu peristiwa yang agung dalam peradaban Islam. Peristiwa di mana umat Islam bersatu menentang tentara Tartar dari Mongolia dan mengalahkan mereka. Kebanyakan ahli sejarah berpendapat bahawa perang ini merupakan satu titik perubahan (turning point) bagi kebiadaban dan kerakusan tentara Mongol yang menghabisi segala apa yang mereka lalui dari timur ke barat dan akhirnya kemarahan mereka ditamatkan oleh tentara-tentara Allah di Ain Jalut.

Hulagu Khan, pewaris tahta Gengis Khantentera_mongol
Kekaisaran Mongol dibentuk oleh Genghis Khan pada abad ke-13 M. Genghis Khan bercita-cita untuk meluaskan kekaisarannya dari timur ke barat dan mengahancurkan apa saja yang menghalangi mereka dari mencapai cita- cita tersebut. Invansi mereka bermula dengan menaklukkan beberapa negara di sekitar Mongolia dan mereka terus “merangsek” ke timur yang dikuasai oleh umat Islam. Sayangnya cita- cita Genghis Khan untuk melihat kekaisarannya terbentang luas dari timur ke barat tidak pernah tercapai karna nyawanya telah dicabut oleh Allah, setelah beliau jatuh dari kuda tunggangannya. Namun begitu, pada 1251M, Hulagu Khan cucu Genghis Khan setelah dilantik menjadi pewaris tahta kekaisaran Mongol, berjanji untuk meneruskan cita-cita kakeknya untuk menguasai seluruh penjuru dunia.

Untuk merealisasikan impian ini, Hulagu Khan mengumpul kekuatan tentaranya di Asia Tengah selama 2 tahun sebelum melancarkan serangan ke atas umat Islam yang bernaung di bawah keKhilafahan Abasiyyah. Pada tahun 1253M, Hulagu Khan mula melakukan ekspedisi penaklukan ke atas wilayah Khilafah Abasiyyah. Tentara yang telah menaklukan 200 kota dalam masa hanya 2 tahun ini dan mampu bergerak jauh dalam satu hari serta memiliki peralatan peperangan yang canggih, hasil invansi panglima perang mereka, akhirnya telah berjaya menusuk masuk ke jantung Khilafah Abasiyyah. Akhirnya pada tahun 1258M, Baghdad, yaitu ibu kota Khilafah Abasiyyah jatuh ke tangan tentera Tartar.

Kejatuhan Baghdad & Surat Hulagu Khan
Kejatuhan Baghdad merupakan satu peristiwa yang sangat tragis dalam sejarah umat manusia. Setelah berjaya mengalahkan tentara-tentara Khilafah, tentera Monggol dengan biadabnya membunuh 1.8 juta kaum muslimin yang berada di kota Baghdad. Juga tidak ketinggalan, Khalifah umat Islam turut dibunuh dengan kejam. Selama 3 tahun setengah, umat Islam hidup tanpa Khalifah. Ada ahli sejarah menukilkan bagaimana si Hulagu Khan ini melakukan pembunuhan terhadap khalifah dengan cara memasukkan khalifah di dalam gulungan permaidani dan memijak dengan kudanya. Tidak cukup dengan itu, tentera Tartar yang biadab ini memusnahkan banyak kitab-kitab karangan cendiakawan-cendiakawan di Baghdad dengan mencampakkannya ke dalam laut sehingga air laut menjadi kehitaman akibat banyaknya kitab-kitab tersebut.muzaffar_qutuz

Hulagu Khan tidak berhenti di sini sahaja. Setelah berjaya menakluki Baghdad, dia mengutus delegasi Mongol ke Mamluk Mesir, yaitu Sultan Muzaffar Saifuddin Qutuz. Delegasi ini datang dengan membawa surat dari Hulagu Khan. Surat Hulagu Khan ini berbunyi :

Dari Raja Segala Raja di Timur dan Di Barat, Khan Yang Agung Kepada Qutuz si Mamluk yang lari dari pedang-pedang kami!

Kamu seharusnya berfikir mengenai apa yang telah terjadi ke atas negara-negara yang lain dan menyerah kepada kami. Kamu pun mendapat khabar berita bagaimana kami telah menawan kekaisaran yang begitu besar, menyucikan bumi ini dari kerusakan yang mencacatkannya. Kami telah menawan kawasan yang luas dan membunuh semua manusia dengan kejam. Kamu tidak akan terlepas dari kerakusan dan kekejaman tentera kami!

Ke mana lagi kamu ingin lari? Jalan mana lagi yang kamu akan gunakan untuk melepaskan diri dari kami? Kuda-kuda kami berlari kencang, anak-anak panah kami tajam, pedang-pedang kami bagaikan guruh yang menakutkan, hati-hati kami keras bagaikan gunung ganang, laskar-laskar kami banyak tak terbilang. Benteng-benteng kukuh tidak akan dapat menghalang kami, senjata-senjata tidak akan dapat membendung kami. Do’a kamu tidak akan membawa apa-apa bagi atas kami. Kesedihan dan ratapan tidak kami pedulikan. Hanya mereka yang merayu untuk perlindungan kami akan selamat.

Bersegeralah dalam membalas surat ini sebelum api peperangan bermula. Jika kamu melawan, maka pasti kamu akan menderita dan tersiksa dengan kehancuran yang dahsyat. Kami akan menghancurkan masjid-masjid kamu dan membuktikan kelemahan Tuhan kamu. Kemudian kami akan membunuh anak-anak kamu dan orang-orang tua di kalangan kamu.

Kini, hanya kamulah satu-satunya musuh yang perlu kami hadapi.

Setelah menerima surat tersebut, Saifuddin Qutuz tidak gentar sedikitpun. Beliau dengan berani membunuh delegasi Mongol dan kepala mereka di gantung di pintu kota Mesir. (catatan : Islam tidak membenarkan membunuh delegasi asing yang diutuskan. Kebanyakan ahli sejarah menyatakan bahawa tujuan kedatangan delegasi tersebut bukanlah sekadar mengantar surat Hulagu Khan semata- mata, tetapi telah bertindak sebagai mata- mata tentera Tartar).

Marahnya Tentara – Tentara Allahain_Jalut_map
Saifuddin Qutuz mula mengumpulkan tentaranya dan akhirnya tentaranya terkumpul sebanyak 20 000 orang tentera. Mereka telah sepakat dan memutuskan untuk meyerang tentera Mongol di luar kota Mesir yaitu melakukan tindakan ofensif terhadap tentara Mongol. Tentara-tentara Allah ini mula bergerak ke luar kota Mesir menuju ke arah Palestin dan bertemu dengan tentara Tartar yang diketuai komandannya, Kitbuqa di Ain Jalut. Maka terjadilah peperangan yang amat dahsyat diantara kedua belah pihak. DI tengah peperangan yang sedang sengit, Saifuddin Qutuz membuka topeng besinya dan menunggang kuda menuju ke tengah medan pertempuran dan memberi motivasi kepada tentaranya agar berjuang habis-habisan dan memburu syurga Allah. Beliau bertakbir beberapa kali dan terus maju ketengah- tengah musuh.

Semasa perang Ain Jalut, isteri Sultan Saifudin Qutuz, iaitu Jullanar turut menyertainya. Ketika Jullanar sedang sakit, Saifudin Qutuz memapahnya dan berkata : ”Wahai Kekasihku”. Jullanar membalas dengan berkata : ”Wahai Saifuddin, lebihlah kasih kamu terhadap Islam”. Setelah itu, Saifuddin Qutuz terus kembali ke medan tempur dan akhirnya pada hari Jumaat, 25 Ramadhan 658H, bersamaan dengan 3 September 1260M tentara-tentara Allah ini telah memperoleh kemenangan ke atas tentera Tartar di Ain Jalut. Tentara Tartar yang tidak pernah terkalahkan ini (sekiranya kalah dibeberapa medan perang, mereka akan mampu menebus balik kekalahan mereka), akhirnya tersungkur dihadapan mata pedang kaum muslimin dan tidak mampu menebus kembali kekalahan mereka di Ain Jalut.

Penutup
Apa yang ingin saya share di sini bukanlah hanya peristiwa sejarah semata. Tetapi yang lebih utama iyalah supaya kita semua mengambil ibrah (pengajaran) dari peristiwa yang telah terjadi. Sekiranya Sultan Muzaffar Saifuddin Qutuz bersama-sama dengan tentaranya sejumlah 20 000 orang berjuang melawan tentara Mongol yang belum pernah terkalahkan di bulan Ramadhan, sepatutnya itu sudah cukup memberi isyarat kepada kita bahawa bulan Ramadhan bukanlah bulan yang hanya semata-mata bulan ruhiyyah, tetapi juga merupakan bulan siyasah (politik). Ketaatan dan kepatuhan kita menunaikan ibadah puasa sepatutnya sama dengan kepada ketaatan dan kepatuhan kita untuk melaksanakan seluruh ajaran Islam, termasuklah jihad dalam menghadapi musuh- musuh Allah.

Dalam menghadapi musuh- musuh Allah ini, sudah pastinya kita memerlukan satu kekuatan yang terinetgral dari segenap aspek dan satu perpaduan yang amat utuh yang lahir dari aqidah yang satu yaitu Islam. Umat Islam yang kira-kira sebanyak 1.6 milyar merupakan sumber tenaga manusia yang sangat besar. Seandainya sumber-sumber ini disatukan dan difokuskan oleh seorang Khalifah, pastinya akan menghasilkan satu kekuatan besar dan mengembalikan peradaban Islam yang sangat agung. Ini bukanlah dongeng dan omong kosong semata, tetapi sejarah telah membuktikan hasilnya. Umat yang satu ini, pastinya akan mampu memakmurkan muka bumi ini jika Islam diterapkan ditengah-tengah kehidupan mereka. Islam dijadikan ideologi dan menjadi penggerak kepada seluruh tindak tanduk umat yang satu ini dan bukannya dengan ideologi selainnya.

~ f.a.i.t.h. – f.i.g.h.t. = m.i.r.a.c.l.e. ~
>> keimanan ditambah perjuangan & perlawanan maka akan menghasilkan, KEAJAIBAN..
>> menjemput janji Allah dan bisyarah Rasulullah, masih ada kota Roma yang menanti kita semua, sodara-sodara. Allahu akbar !!

Note: Jullanar istri tercinta sultan Muffazar Saifudin Qutuz meraih syahid terlebih dahulu karna tiba-tiba menerobos situasi perang dan menjadi perisai hidup bagi suaminya. semoga ini menjadi panutan bagi kita semua yang telah menjadi istri atau pun bagi para calon istri. Allahu akbar !!

*adapted from http://www.mykhilafah.com

ARAB SAUDI DAN PENGKHIANATAN KELUARGA SA‘UD

George Bush dan Raja Abdullah (Saud)
Arab Saudi merupakan salah satu negara di Dunia Islam yang cukup strategis, terutama karena di negara tersebut terdapat Baitullah di Makkah yang menjadi pusat ibadah haji kaum Muslim seluruh dunia. Apalagi perjalanan Islam tidak bisa dilepaskan dari wilayah Arab Saudi. Sebab, di sanalah Rasulullah saw. lahir dan Islam bermula hingga menjadi peradaban besar dunia. Arab Saudi juga sering menjadi rujukan dalam dunia pendidikan Islam karena di negara tersebut terdapat beberapa universitas seperti King Abdul Aziz di Jeddah dan Ummul Qura di Makkah yang menjadi tempat belajar banyak pelajar Islam dari seluruh dunia. Dari negara ini, muncul Gerakan Wahabi yang banyak membawa pengaruh di Dunia Islam. Lebih jauh, Saudi sering dianggap merupakan representasi negara Islam yang berdasarkan al-Quran dan Sunnah.

Namun demikian, di sisi lain, Saudi juga merupakan negara yang paling banyak dikritik di Dunia Islam. Sejak awal pembentukannya, negara ini dianggap memberontak terhadap Khilafah Utsmaniyah. Sejarahnya juga penuh dengan pertumpahan darah lawan-lawan politiknya. Banyak pihak juga menyoroti tindakan keras yang dilakukan oleh rezim ini terhadap pihak-pihak yang menentang kekuasaan Keluarga Saud. Tidak hanya itu, Saudi juga dikecam karena menyediakan daerahnya untuk menjadi pangkalan militer AS. Kehidupan keluarga kerajaan yang penuh kemewahan juga banyak menjadi sorotan. Secara ekonomi, Saudi juga menjadi incaran negara-negara besar di dunia karena faktor kekayaan minyaknya.

MEMBERONTAK KEPADA NEGARA ISLAM, BERSEKUTU DENGAN INGGRIS

Secara resmi, negara ini memperingati kemerdekaannya pada tanggal 23 September. Pada saat itulah, tahun 1932, Abdul Aziz—dikenal juga dengan sebutan Ibnu Sa‘ud—memproklamirkan berdirinya Kerajaan Saudi Arabia (al-Mamlakah al-‘Arabiyah as-Su‘udiyah). Abdul Aziz pada saat itu berhasil menyatukan dinastinya; menguasai Riyad, Nejed, Ha-a, Asir, dan Hijaz. Abdul Aziz juga berhasil mempolitisasi pemahaman Wahabi untuk mendukung kekuatan politiknya. Sejak awal, Dinasti Sa‘ud secara terbuka telah mengumumkan dukungannya dan mengadopsi penuh ide Wahabi yang dicetuskan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang kemudian dikenal dengan Gerakan Wahabi. Dukungan ini kemudian menjadi kekuatan baru bagi Dinasti Sa‘ud untuk melakukan perlawanan terhadap Khilafah Islamiyah.

Hanya saja, keberhasilan Dinasti Sa‘ud ini tidak lepas dari bantuan Inggris. Mereka bekerjasama untuk memerangi pemerintahan Khilafah Islamiyah. Sekitar tahun 1792-1810, dengan bantuan Inggris mereka berhasil menguasai beberapa wilayah di Damaskus. Hal ini membuat Khilafah Islamiyah harus mengirim pasukannya untuk memadamkan pemberontakan ini. Fase pertama, pemberontakan Dinasti Saud berhasil diredam setelah pasukan Khilafah Islamiyah berhasil merebut kota ad-Diriyah.

Namun kemudian, beberapa tahun kemudian, Dinasti Sa‘ud, di bawah pimpinan Abdul Aziz bin Abdurrahman, berupaya membangun kembali kekuataannya. Apalagi pada saat itu, Daulah Khilafah Islamiyah semakin melemah. Pada tahun 1902, Abdul Aziz menyerang dan merebut kota Riyadh dengan membunuh walinya (Gubernur Khilafah ar-Rasyid). Pasukan Aziz terus melakukan penaklukan dan membunuh pendukung Khilafah Utsmaniyah dengan bantuan Inggris.

Salah satu sahabat dekat Abdul Aziz Abdurrahman adalah Harry St. John Pilby, yang merupakan agen Inggris. Philby menjuluki Abdul Aziz bin Abdurrahman sebagai “Seorang Arab yang Beruntung”, sementara Abdul Aziz menjulukinya dengan “Bintang Baru dalam Cakrawala Arab”. Philby adalah orang Inggris yang ahli Arab yang telah lama menjalin hubungan baik dengan Keluarga Sa‘ud sejak misi pertamanya ke Nejed pada tahun 1917. Pada tahun 1926, Philby tinggal di Jeddah. Dikabarkan kemudian, Philby masuk Islam dan menjadi anggota dewan penasihat pribadi Raja pada tahun 1930. (Lihat: Goerge Lenczowsky, Timur Tengah di Tengah Kencah Dunia, hlm. 351).

Kerjasama Dinasti Sa‘ud dengan Inggris tampak dalam perjanjian umum Inggris-Arab Saudi yang ditandatangani di Jeddah (20 Mei 1927). Perjanjian itu, yang dirundingkan oleh Clayton, mempertegas pengakuan Inggris atas ‘kemerdekaan lengkap dan mutlak’ Ibnu Sa‘ud, hubungan non-agresi dan bersahabat, pengakuan Ibnu Sa‘ud atas kedudukan Inggris di Bahrain dan di keemiran Teluk, serta kerjasama dalam menghentikan perdagangan budak (ibidem, hlm. 351). Dengan perlindungan Inggris ini, Abdul Aziz (yang dikenal dengan Ibnu Sa‘ud) merasa aman dari berbagai rongrongan.

Pada tahun 1916, Abdul Aziz menerima 1300 senjata dan 20.000 keping emas dari Inggris. Mereka juga berunding untuk menentukan perbatasan negerinya, yang ditentukan oleh Percy Cox, utusan Inggris. Percy Cox mengambil pinsl dan kertas kemudian menentukan (baca: memecah-belah) perbatasan negeri tersebut. Tidak hanya itu, Inggris juga membantu Ibnu Sa‘ud saat terjadi perlawanan dari Duwaish (salah satu suku Nejed). Suku ini menyalahkan Ibnu Saud yang dianggap terlalu menerima inovasi Barat. Sekitar tahun 1927-1928, Angkatan Udara Inggris dan Pasukan Ibnu Sa‘ud mengebom suku tersebut. Mengingat kerjasama mereka yang sangat erat, Inggris memberi gelar kebangsawanan ‘sir’ untuk Abdul Aziz bin Abdurrahman.

PERSAHABATAN DENGAN AS

Persahabatan Saudi dengan AS diawali dengan ditemukannya ladang minyak di negara itu. Pada 29 Mei 1933, Standart Oil Company dari California memperoleh konsesi selama 60 tahun. Perusahaan ini kemudian berubah nama menjadi Arabian Oil Company pada tahun 1934. Pada mulanya, pemerintah AS tidak begitu peduli dengan Saudi. Namun, setelah melihat potensi besar minyak negara tersebut, AS dengan agresif berusaha merangkul Saudi. Pada tahun 1944, Deplu AS menggambarkan daerah tersebut sebagai, “sumber yang menakjubkan dari kekuatan strategi dan hadiah material yang terbesar dalam sejarah dunia (a stupendous source of strategic power and the greatest material prize in the world’s history).”

Untuk kepentingan minyak, secara khusus wakil perusahaan Aramco, James A. Moffet, menjumpai Presiden Roosevelt (April 1941) untuk mendorong pemerintah AS memberikan pinjaman utang kepada Saudi. Utang inilah yang kemudian semakin menjerat negara tersebut menjadi ‘budak’ AS. Pada tahun 1946, Bank Ekspor-Impor AS memberikan pinjaman kepada Saudi sebesar $10 juta dolar. Tidak hanya itu, AS juga terlibat langsung dalam ‘membangun’ Saudi menjadi negara modern, antara lain dengan memberikan pinjaman sebesar $100 juta dolar untuk pembangunan jalan kereta api yang menghubungkan ibukota dengan pantai timur dan barat. Tentu saja, utang ini kemudian semakin menjerat Saudi.

Konsesi lain dari persahabatan Saudi-AS ini adalah penggunaan pangkalan udara selama tiga tahun oleh AS pada tahun 1943 yang hingga saat ini terus dilanjutkan. Pangkalan Udara Dhahran menjadi pangkalan militer AS yang paling besar dan lengkap di Timur Tengah. Hingga saat ini, pangkalan ini menjadi basis strategis AS, terutama saat menyerang negeri Muslim Irak dalam Perang Teluk II. Penguasa keluarga Kerajaan Saudi dengan ‘sukarela’ membiarkan wilayahnya dijadikan basis AS untuk membunuhi sesama saudara Muslim. AS pun kemudian sangat senang dengan kondisi ini.

Pada tahun 1947, saat Putra Mahkota Emir Saud berkunjung ke AS, dia menerima penghargaan Legion of Merit atas jasanya kepada sekutu selama perang. Hingga saat ini, persahabatan AS dan Saudi terus berlanjut walaupun harus menyerahkan loyalitasnya kepada AS dan membunuh sesama Muslim.

NEGARA ISLAM SEMU

Salah satu kehebatan negara Saudi selama ini adalah keberhasilannya dalam menipu kaum Muslim, seakan-akan negaranya merupakan cerminan dari negara Islam yang menerapkan al-Quran dan Sunnah. Keluarga Kerajaan juga menampilkan diri mereka sebagai pelayan umat hanya karena di negeri mereka ada Makkah dan Madinah yang banyak dikunjungi oleh kaum Muslim seluruh dunia. Saudi juga terkesan banyak memberikan bantuan kepada kelompok-kelompok Islam maupun negeri-negeri Islam untuk mencitrakan mereka sebagai ‘pelayan umat’ dan penjaga dua masjid suci (Khadim al-Haramain).

Akan tetapi, citra seperti itu semakin pudar mengingat sepak terjang keluarga Kerajaan selama ini, terutama persahabatannya dengan AS yang mengorbankan kaum Muslim. Arab Saudi menjadi pendukung penuh AS baik secara politis maupun ekonomi dalam Perang Teluk II. Saudi juga mendukung serangan AS ke Afganistan dan berada di sisi Amerika untuk memerangi teroris. Untuk membuktikan kesetiaannya itu, Saudi, pada 17 Juni 2002 mengumumkan bahwa aparat keamanannya telah menahan enam orang warga negaranya dan seorang warga Sudan yang didakwa menjadi anggota Al-Qaeda. Tujuh orang itu didakwa berencana untuk menyerang pangkalan militer Amerika dengan rudal SAM 7. Masih dalam rangka kampanye AS ini, Saudi menghabiskan jutaan dolar untuk membuat opini umum—antara lain lewat iklan—bahwa Saudi adalah mitra AS dalam “perang antiterorisme.” (K.Com, Newsweek, 03/5/2002).

Penguasa Saudi juga dikenal kejam terhadap kelompok-kelompok Islam yang mengkritisi kekuasaannya. Banyak ulama berani dan salih yang dipenjarakan hanya kerena mengkritik keluarga Kerajaan dan pengurusannya terhadap umat. Tidak hanya itu, tingkah polah keluarga Kerajaan dengan gaya hidup kapitalisme sangat menyakitkan hati umat. Mereka hidup bermewah-mewah, sementara pada saat yang sama mereka membiarkan rakyat Irak dan Palestina hidup menderita akibat tindakan AS yang terus-menerus dijadikan Saudi sebagai mitra dekat.

Benarkah Saudi merupakan negara Islam? Jawabannya, “Tidak sama sekali!” Apa yang dilakukan oleh negara ini justru banyak yang menyimpang dari syariat Islam. Beberapa bukti antara lain:

Berkaitan dengan sistem pemerintahan, dalam pasal 5a Konstitusi Saudi ditulis: Pemerintah yang berkuasa di Kerajaan Saudi adalah Kerajaan. Dalam Sistem Kerajaan berarti kedaulatan mutlak ada di tangan raja. Rajalah yang berhak membuat hukum. Meskipun Saudi menyatakan bahwa negaranya berdasarkan pada al-Quran dan Sunnah, dalam praktiknya, dekrit rajalah yang paling berkuasa dalam hukum. Sementara itu, dalam Islam, bentuk negara adalah Khilafah Islamiyah, dengan kedaulatan ada di tangan Allah SWT.

Dalam sistem kerajaan, rajalah yang juga menentukan siapa penggantinya; biasanya adalah anaknya atau dari keluarga dekat, sebagaimana tercantum dalam pasal 5c: Raja memilih penggantinya dan diberhentikan lewat dekrit kerajaan. Siapa pun mengetahui, siapa yang menjadi raja di Saudi haruslah orang yang sejalan dengan kebijakan AS. Sementara itu, dalam Islam, Khalifah dipilih oleh rakyat secara sukarela dan penuh keridhaan.

Dalam bidang ekonomi, dalam praktiknya, Arab Saudi menerapkan sistem ekonomi kapitalis. Ini tampak nyata dari dibolehkannya riba (bunga) dalam transaksi nasional maupun internasional di negara itu. Hal ini tampak dari beroperasinya banyak bank ‘ribawi’ di Saudi seperti The British-Saudi Bank, American-Saudi Bank, dan Arab-National Bank. Hal ini dibenarkan berdasarkan bagian b pasal 1 undang-undang Saudi yang dikeluarkan oleh Raja (no M/5 1386 H).

Saudi juga menjadi penyumbang ‘saham’ IMF, organisasi internasional bentuk AS yang menjadi ‘lintah darat’ yang menjerat Dunia Islam dengan riba. Saudi adalah penanam saham no. 6 yang terbesar dalam organisasi itu. Ada bukti lain yang menunjukkan bahwa ekonomi Saudi adalah ekonomi kapitalis, yakni bahwa Saudi menjadikan tambang minyak sebagai milik individu (keluarga Kerajaan dan perusahaan asing), padahal minyak adalah milik umum (milkiyah ‘amah) yang tidak boleh diberikan kepada individu.

Kerajaan Saudi juga dibangun atas dasar rasialisme dan nasionalisme. Hal ini tampak dari pasal 1 Konstitusi Saudi yang tertulis: Kerajaan Saudi adalah Negara Islam Arab yang berdaulat (a sovereign Arab Islamic State). Sementara itu, dalam Islam, Khilafah adalah negara Islam bagi seluruh kaum Muslim di dunia, tidak hanya khusus orang Arab. Tidak mengherankan kalau di Saudi seorang Muslim yang bukan Saudi baru bisa memiliki bisnis atau tanah di Saudi kalau memiliki partner warga Saudi. Atas dasar kepentingan nasional, Raja Fahd pada 1997 mengusir ratusan ribu Muslim di luar Saudi (sebagian besar dari India, Pakistan, Mesir, dan Indonesia) dari Arab Saudi karena mereka dicap sebagai pekerja ilegal. Bahkan, untuk beribadah haji saja mereka harus memiliki paspor dan visa. Sementara itu, dalam Islam, setiap Muslim boleh bekerja dan berpergian di wilayah manapun dari Daulah Khilafah Islamiyah dengan bebas. Pada saat yang sama, Saudi mengundang ratusan non-Muslim dari Eropa dan tentara Amerika untuk bekerja di Saudi dan menempati pangkalan militer di negara itu. Tidak hanya itu, demi alasan keamanan keluarga Kerajaan, berdasarkan data statistik kementerian pertahanan AS, negara-negara Teluk (termasuk Saudi) sejak tahun 1990-November 1995 telah menghabiskan lebih dari 72 miliar dolar dalam kontrak kerjasama militer dengan AS. Saat ini, lebih dari 5000 personel militer AS tinggal di Saudi.

Apa yang terjadi di Saudi saat ini hanyalah salah satu contoh di antara sekian banyak contoh para penguasa Muslim yang melakukan pengkhianatan kepada umat. Tidak jarang, para penguasa pengkhianat umat ini menamakan rezim mereka dengan sebutan negara Islam atau negara yang berdasarkan al-Quran dan Sunnah; meskipun pada praktiknya jauh dari Islam. Karenanya, umat Islam wajib menyadari kewajiban menegakkan Daulah Khilafah Islamiyah yang sahih, bukan semu. Daulah Khilafah Islamiyah inilah yang akan menerapkan hukum-hukum Islam secara menyeluruh, yang pada giliran akan menyelesaikan berbagai persoalan umat ini. Tentu saja, hal ini harus dibarengi dengan melengserkan para penguasa pengkhianat di tengah kaum Muslim. Inilah kewajiban kita semua saat ini. [Farid Wajdi]

*NB : bukan sekedar diskusi dan berdebat, tapi mencari kebenaran dari sebuah fakta
Dari kiri, Raja Abdullah (Saudi), Menlu Arab Saudi, Saud Al-faisal, Raja Abdullah (Jordan), George Bush

Sumpah Pemuda, cikal bakal ashobiyah

PERTAMA.SAMPAH PEMUDA jadoel
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA,
MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA.
KEDOEA
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA,
MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA.
KETIGA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA,
MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA.

Kalimat tersebut merupakan hasil dari Kongres Pemuda yang diucapkan sebagai sumpah setia yang dilaksanakan pada hari Minggu, 28 Oktober 1928 bertempat di di Gedung Oost-Java Bioscoop
(sekarang Gedung Keramat 106 Jakarta).

Kongres yang digagas oleh Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat. Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Dalam sambutannya, Soegondo berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Jamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.

Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, sependapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Pada sesi berikutnya, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Kongres Pemuda II yang menghabiskan dana f250 atau setara gaji satu bulan pegawai Pemerintah Hindia-Belanda lulusan Stovia atau Sekolah Hakim pada waktu itu, dihadiri dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPI, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie serta Kwee Thiam Hong sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond.

Sumpah Pemuda adalah ikatan ashobiyyah

Seperti kita ketahui bahwa manusia adalah makhluk sosial. Satu dengan yang lainnya saling membutuhkan. Agar tercipta kehidupan bersama yang harmonis, tidak memicu pertentangan dan permusuhan dibuatlah ikatan-ikatan, yang menjadi sebuah peraturan/konsensus yang harus ditaati oleh seluruh unsur masyarakat. Ikatan-ikatan tersebut bentuknya bermacam-macam, bisa berbentuk norma-norma, peraturan hukum, ideologi dan sejenisnya.

Salah satu dari berbagai macam ikatan itu adalah ikatan kesukuan. Menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, ikatan kesukuan tumbuh di tengah-tengah masyarakat pada saat pemikiran manusia mulai sempit. Sebab munculnya ikatan kesukuan ini karena manusia itu, pada dasarnya memiliki naluri ingin mempertahankan diri (survive), lalu muncul pada dirinya keinginan untuk berkuasa. Keinginan ini muncul hanya pada individu yang rendah taraf pemikirannya (An-Nabhani, Nizhomul Islam). Untuk meluaskan pengaruh kekuasaannya itu, tidak jarang berhadapan dengan suku-suku lain, sehingga menimbulkan pertentangan-pertentangan lokal antar suku. Kepentingan dan pembelaan berdasarkan golongan, termasuk suku bangsa, di dalam istilah Islam dikenal dengan nama ashabiyah atau ta’ashub.

Jadi, ikatan kesukuan merupakan ikatan yang rusak. Tidak layak dijadikan pengikat antar manusia, karena memiliki beberapa aspek:
Ikatan ini berdasarkan pada suku/keturunan etnis tertentu, sehingga tidak dapat dijadikan pengikat dalam sebuah masyarakat yang penduduknya heterogen. Apalagi jika masyarakat itu berbentuk sebuah peradaban besar yang mencakup berbagai suku, bangsa, ras, asal geografis dan sebagainya.
Ikatan ini bersifat emosional, selalu didasarkan pada perasaan yang muncul secara spontan dari naluri mempertahankan diri.
Ikatan ini juga tidak manusiawi, karena menimbulkan pertentangan dan perselisihan antar sesama manusia, terutama dalam berebut kekuasaan.

Ikatan kesukuan hanya mengurung akal manusia dalam pemikiran yang picik dan sempit.
Ikatan inilah yang dipergunakan oleh Barat dalam memecah belah umat Islam dengan menanamkan tsaqafah ini kepada pemikiran-pemikiran kaum muslimin. Tsaqafah inilah yang dipergunakan Barat untuk menghacurkan Khilafah Islam pada tahun 1924M. Dan setelah menghancurkan Khilafah Islam, tsaqafah ini masih terus ditanamkan kepada kaum muslimin.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Ad-Daulah Al-Islamiyah pada bab muqaddimah mengibaratkan Barat yang menanamkan tsaqafah ashabiyah yang telah dijadikan senjata untuk menghancurkan Khilafah Islam (ibu dari kaum muslimin) dan kemudian menanamkannya kepada kaum muslimin (anak cucu Khilafah Islam) dengan istilah : ”Sungguh aku telah membunuh ibu kalian yang memang patut untuk dibunuh lantaran perawatannya yang buruk terhadap kalian. Sekarang aku menjanjikan perawatan yang membuat kalian bisa merasakan kebahagiaan hidup dan kenikmatan yang nyata.” Namun sayangnya, anak cucu Khilafah (kaum muslimin) menerima uluran tangan si pembunuh, padahal senjata sang pembunuh yang terhunus masih berlumuran darah ibu mereka.

Kaum muslimin yang sudah dipecah belah oleh Barat, kemudian mengambil tsaqafah Barat dengan mengadakan kongres pemuda di Jakarta. Mereka tidak lagi bersatu dalam ukhuwah Islamiyah, namun mereka bersatu dalam ashabiyah nasionalisme. Mereka tidak lagi memikirkan saudara seimannya di wilayah lain, mereka hanya memikirkan nasib wilayahnya sendiri yaitu Indonesia.

Umat Islam lupa akan bahaya tsaqafah ini. Mereka memerangi penjajah, namun pada saat yang sama, mereka pun mengambil tsaqafahnya. Padahal, tsaqafah itulah yang membuat mereka terjajah.
Ikatan Ukhuwah, ikatan yang shohih

Islam tidak mengenal ikatan apapun, selain ikatan iman dan ukhuwah Islamiyah, untuk seluruh kaum Muslimin. Ikatan ini berarti hanya menjadikan akidah Islam, mabda (ideologi) Islam, sebagai satu-satunya pengikat antar kaum Muslimin. Ikatan-ikatan lainnya seperti ikatan kelompok, golongan, suku, keluarga, bangsa/nasionalisme, dan sejenisnya masuk dalam kategori ikatan-ikatan yang mempropagandakan syi’ar-syi’ar Jahiliyah.

Islam, muncul untuk merobohkan ikatan-ikatan semacam itu, membersihkannya, kemudian membangunnya dengan akidah Islam dan mabda (ideologi) Islam yang satu, pemimpin yang satu, negara yang satu, syariat (sistem hukum) yang satu.

Kecaman Islam terhadap para penganut paham sukuisme, fanatisme golongan dan sejenisnya amat keras, sampai-sampai Rasulullah saw juga bersabda:

“Bukan dari golongan kami orang-orang yang menyerukan ashabiyah, orang yang berperang karena ashabiyah, serta orang-orang yang mati karena membela ashabiyah.”
(HR. Abu Dawud)

Artinya, kaum Muslimin yang terlibat dalam fanatisme golongan/kesukuan (ashabiyah), dianggap ‘bukan dari golongan kami’, yaitu bukan termasuk kaum Muslimin. Seruannya, pembelaannya, bahkan pertarungannya membela golongan/kelompok/suku hanyalah perbuatan sia-sia dan hina!

Dalam hadits-hadits lain, kecaman Islam terhadap penganut ashabiyah lebih ’seram’, sehingga Rasulullah mencapnya seperti ‘bahan bakar api neraka’, ‘lebih rendah dari cacing tanah’, ‘lebih baik menggigit kemaluan bapaknya’. Semua itu menunjukkan perbuatan hina dan menjijikkan, dan jelas-jelas berdosa. Di depan Islam, derajat mereka lebih rendah dari binatang, malah lebih rendah dari cacing tanah!

Raden Mas bEJo

http://www.facebook.com/note.php?note_id=168427847566&ref=mf

~ Kabinet Baru, Kabinet Pesanan AS-Pemerintah Baru, “Bencana Baru”~

Istana Negara, di dampingi Wapres Boediono, dan kedua Juru Bicara Kepresidenan, Presiden SBY mengumumkan susunan Kabinet Indonesia Bersatu jilid kedua. Berikut susunannya :

MENTERI KOORDINATOR

1. Menko Politik Hukum dan Keamanan : Marsekal (Purn) Djoko Suyanto
2. Menko Perekonomian : Hatta Rajasa
3. Menko Kesra : R Agung Laksono
4. Sekretaris Negara : Sudi Silalahi

MENTERI DEPARTEMEN

1. Menteri Dalam Negeri : Gamawan Fauzi
2. Menteri Luar Negeri : Marty Natalegawa
3. Menteri Pertahanan : Purnomo Yusgiantoro
4. Menteri Hukum dan HAM : Patrialis Akbar
5. Menteri Keuangan : Sri Mulyani
6. Menteri ESDM: Darwin Saleh
7. Menteri Perindustrian : MS Hidayat
8. Menteri Perdagangan : Mari E. Pangestu
9. Menteri Pertanian : Suswono
10. Menteri Kehutanan : Zulkifli Hasan
11. Menteri Perhubungan : Freddy Numberi
12. Menteri Kelautan dan Perikanan : Fadel Muhammad
13. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi : Muhaimin Iskandar
14. Menteri Pekerjaan Umum : Djoko Kirmanto
15. Menteri Kesehatan : Endang Rahayu Sedyaningsih
16. Menteri Pendidikan Nasional : Mohammad Nuh
17. Menteri Sosial : Salim Segaf Al Jufri
18. Menteri Agama : Suryadharma Ali
19. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata : Jero Wacik
20. Menteri Komunikasi dan Informatika : Tifatul Sembiring

MENTERI NEGARA

1. Menteri Riset dan Teknologi : Suharna Suryapranata
2. Menteri Koperasi dan UKM : Syarifudin Hasan
3. Menteri Lingkungan Hidup : Gusti Muhammad Hatta
4. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Linda Amalia Sari Gumelar
5. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara : E.E Mangindaan
6. Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal : Ahmad Helmy Faishal Zaini
7. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas : Armida Alisjahbana
8. Menteri BUMN : Mustafa Abubakar
9. Menteri Pemuda dan Olahraga : Andi Alfian Mallarangeng
10. Menteri Perumahan Rakyat : Suharso Manoarfa

PEJABAT SETINGKAT MENTERI

1. Kepala BIN: Jenderal (Purn) Sutanto
2. Kepala BKPM: Gita Wirjawan
3. Ketua Unit Kerja Presiden Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan: Kuntoro

Namun penetapan nama-nama tersebut, sesungguhnya bukanlah sim-salabim atau langsung muncul begitu saja. SBY dalam penyusunan menteri kabinet, didampingi oleh wapres Boediono dan Sudi Silalahi. Boediono yang merupakan orang neoliberal, yang ketika menjabat Gubernur BI telah mengucurkan dana Rp. 6,7 Triliun untuk Bank Century, tanpa sepengetahuan Presiden, yang diduga kuat untuk membiayai kegiatan partai politik tertentu (www.republika.co.id).

Sedangkan Sudi Silalahi yang pada tanggal 20 Januari 2005 (mengatasnamakan jabatan Seskab), telah mengirim surat kepada Menteri Luar Negeri untuk merespons dan menerima presentasi dari manajemen PT Sun Hoo Engineering tentang rencana pembangunan gedung KBRI di Seoul, Korea Selatan. Surat ini kemudian disusul dengan surat kedua pada tanggal 21 Februari 2005, dengan isi yang sama, namun diperkuat dengan permintaan untuk ‘menindaklanjuti’ yang diberi penekanan dengan huruf miring. Surat ini juga melampirkan 4 berkas proposal dan dua maket. Surat-surat ini kemudian bocor ke tangan wartawan, dan dimuat di berbagai surat kabar setahun kemudian. Banyak pihak, antara lain mantan presiden RI Abdurrahman Wahid, koordinator ICW Teten Masduki serta kalangan anggota DPR menganggap apa yang dilakukan Sudi ini di luar batas-batas kepatutan sebagai pejabat negara. Untuk meredam kasus ini, Sudi melaporkan anak buahnya, Aziz Ahmadi, sebagai orang yang dianggap telah memalsukan surat-surat tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya, Aziz diberitakan pula telah mengaku menerima imbalan atas keluarnya surat tersebut. (www.wikipedia.org)

Bersama Boediono dan Sudi Silalahi, SBY juga didampingi oleh Rizal Malarangeng dalam penyusunan kabinet. Direktur Freedom Institute ini juga merupakan tokoh liberal.

Nama-nama menteri diatas khususnya dibidang ekonomi, diisi oleh “Trio Srikandi Kapitalis”. Yaitu Sri Mulyani yang merupakan orang dekat dari IMF, Armida Alisjahbana yang merupakan orang dekat dari Word Bank dan AusAID, Mari Elka Pangestu (wanita keturunan Tionghoa yang memiliki nama asli Hanzi) merupakan aktifis CSIS. Tidak menutup kemungkinan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan mereka kelak syarat dengan pesanan dari negara-negara Kapitalis. Seperti hutang kepada IMF yang mana Indonesia harus menarik subsidi barang kebutuhan pokok masyarakat baik itu BBM, listrik, telepon, dll. Meskipun akhirnya pemerintah mengeluarkan kebijakan BLT, namun hal ini tidak menjadikan kondisi normal, melainkan justru akan semakin mempersulit rakyat menengah kebawah. Untuk tahun 2009 ini saja, pemerintah Indonesia telah membayar hutang luar negeri sebesar Rp. 127,607 Triliun. Dimana pembayaran ini adalah pembayaran terbesar sejak tahun 2004. Namun kita jangan berbangga terlebih dahulu bahwa Indonesia bisa membayar hutang sebesar itu, karena dana yang dipergunakan untuk membayar hutang tersebut juga berasal dari dana hutang (Kompas, 9 Oktober 2009).

Selain itu masih adalagi nama menteri yang dekat dengan AS, yaitu Endang Rahayu Sedyaningsih. Wanita lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1979, dan memperoleh gelar master dan dokter dari Harvard School of Public Health, Boston, masing-masing tahun 1992 dan 1997 ini secara mendadak menggantikan calon sebelumnya yaitu Nila A Moeloek. Endang Rahayu Sedyaningsih ini tidak pernah muncul sejak proses wawancara dilakukan Presiden SBY dan Wakil Presiden Boediono di Puri Cikeas, Bogor. Ia juga tidak tampak hadir di RSPAD Gatot Subroto untuk melakukan pemeriksaan kesehatan yang disyaratkan dalam proses seleksi menteri tersebut (www.kompas.com). Ternyata Endang Rahayu Sedyaningsih ini merupakan orang terdekat dengan Namru-2 sebuah laboratorium peneliti milik angkatan laut AS. Endang Rahayu yang pernah membawa virus ke luar negeri ini secara jelas-jelas akan melanjutkan kerja samanya dengan Namru-2. Sebelumnya Siti Fadilah Supari mempermasalahkan kerja sama dengan Namru-2. Bahkan para peneliti di Namru-2 memiliki kekebalan hukum, yang ini sesungguhnya hanya bisa dimiliki oleh seorang Duta Besar saja.

Sementara itu, Tifatul Sembiring sengaja diposisikan sebagai Meneginfo. Presiden PKS ini memang bukan antek AS, Namun pemasangan Tifatul Sembiring di posisi tersebut, sesuai dalam salah satu tugasnya pada Badan Informasi Publik (www.depkominfo.go.id) dimaksudkan agar bisa menjelaskan (lebih tepatnya menenangkan) kepada rakyat tentang kebijakan-kebijakan AS di Indonesia. Seperti kebijakan menarik subsidi BBM, menguburkan berita tentang keikutsertaannya kapal Induk George Washington dan kapal perang Australia dalam acara Sail Bunaken 2009 yang kemudian mengambil kesempatan untuk dapat masuk dan mengamati dari dalam pertahanan Indonesia dan mengamati China lebih dekat karena AS sedang bersitegang dengan China yang mengembangkan senjata nuklir (secret operation-Metro TV 21 Oktober 2009). AS melalui mitranya Australia sudah jauh-jauh hari mendekati salah satu partai Islam terbesar di Indonesia ini. Yaitu dengan adanya pertemuan antara PKS dan ALP Partai Buruh Australia yang merupakan partai yang berkuasa di Australia pada tanggal 21 mei 2008. Bahkan dikatakan oleh perdana menteri Australia Kevin Rudd bahwa PKS dan ALP sudah dua tahun bekerjasama (www.pk-sejahtera.org).

Inilah yang dilakukan oleh AS dan negara-negara Kapitalis, dengan menggunakan politik belah bambu ala Rand Corporation. Dimana ummat Islam di Indonesia yang merupakan ummat Islam terbesar di dunia, sebelumnya dibagi menjadi 4 kelompok kecendrungan dan sikap politik mereka terhadap Barat dan nilai-nilai Demokrasi :

* Pertama : Kelompok Fundamentalis

Menolak nilai-nilai demokrasi dan kebudayaan Barat kontemporer. Mereka menginginkan sebuah negara otoriter yang puritan yang akan dapat menerapkan Hukum Islam yang ekstrem dan moralitas. Mereka bersedia memakai penemuan dan teknologi modern untuk mencapai tujuan mereka.
* Kedua : Kelompok Tradisionalis

Ingin suatu masyarakat yang konservatif. Mereka mencurigai modernitas, inovasi, dan perubahan.
* Ketiga : Kelompok Modernis

Ingin Dunia Islam menjadi bagian modernitas global. Mereka ingin memodernkan dan mereformasi Islam dan menyesuaikannya dengan zaman.
* Keempat : Kelompok Sekularis

Ingin Dunia Islam untuk dapat menerima pemisahan antara agama dan negara dengan cara seperti yang dilakukan negara-negara demokrasi industri Barat, dengan agama dibatasi pada lingkup pribadi.

Setelah mereka (ummat Islam) dibagi berdasarkan kecendrungan dan sikap politik mereka terhadap Barat dan nilai-nilai Demokrasi, kemudian mereka melakukan pecah belah, seperti :

* Pertama, Support the modernists first (mendukung kelompok Modernis)
* Kedua, Support the traditionalists against the fundamentalists: Mendukung kaum tradisionalis dalam menentang kaum fundamentalis.
* Ketiga, Confront and oppose the fundamentalists: Mengkonfrontir dan menentang kaum fundamentalis.
* Keempat, Secara selektif mendukung kaum sekuler.

AS dan negara-negara kapitalis lainnya, mengelompokkan Sri Mulyani, Boediono, dll kedalam kelompok sekuler yang harus di dukung penuh. Sedangkan kepada Tifatul Sembiring, mereka mengelompokkan kedalam kelompok modernis yang harus didekati dan diberi dukungan yang kemudian diharapkan bisa membantu dan mendukung usaha mereka.

Dalam 5 tahun kedepan, akan kita lihat kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, yang sarat dengan kepentingan AS.

Raden Mas bEJo

Posted in Berita, Nasional, Siyasy Tagged: Bersatu, Indonesia, Jilid 2, Kabinet

http://www.facebook.com/note.php?note_id=325816370256&ref=mf

~ Mahasiswa, Agen Perubahan Bangsa ~

Mahasiswa, Agen Perubahan BangsaLogo KMII

Di tanganmu ide opini yang berkembang digulirkan
Di tanganmu arus intelektualitas bangsa diperjuangkan
Teringat derap langkah tegap
Menyambangi dunia dengan siap
Setiap hari diisi dengan agenda yang padat
Demi kebangkitan yang kini tersendat

“Wahai musuh Islam, kau akan kami hadang,
Jika kau berani datang tuk menghalang !!
Jangan pernah harap bisa menerabas,
Karna pedang pemikiran ini yang akan menebas !! ”

Mahasiswa, tempat masyarakat menaruh harapan

Teringat perkataan seorang saudari,
Akankah mereka tetap memiliki semangat yang sama??
Semangat memberontak seperti saat ini??
Semangat mempertaruhkan segala demi kemuliaan Islam??

Akankah jiwa-jiwa membara ini akan tetap sama??
Ketika telah berubah peran dari mahasiswa menjadi pekerja,
Atau ketika disibukkan oleh tangis-tangis bayi mungil mereka.
Atau ketika sibuk menunaikan kewajiban sebagai suami dan seorang ayah.

We will never know what come next.

Maka persiapkan saudara, persiapkan dirimu menghadapi segala
Lawanlah terus rintangan yang ada
Jangan biarkan perjuangan hilang tak bersisa
Karna Khilafah menanti para pejuangnya di depan sana !!
Allahu akbar !!

Pelantikan SBY-Budiono, 20-10-2009 Diwarnai Aksi Rusuh

Mahasiswa Demo di Depan Istana Negara
Headline News / Polkam / Selasa, 20 Oktober 2009 17:05 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Unjuk rasa ribuan mahasiswa di depan Gedung Istana Negara, Jalan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (20/10), diwarnai ketegangan dengan polisi. Mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) seluruh Indonesia itu mengajukan tujuh tuntutan kepada Presiden Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono.

Tujuh tuntutan itu terkait dengan pendidikan, ekonomi, kesejateraan dan korupsi. Dalam bidang pendidikan, mereka meminta pemerintah mengalokasikan anggaran 20 persen untuk pendidikan. Mereka juga meminta pemerintah mencabut Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan.

Mahasiswa mendesak pemerintah segera menindaklanjuti audit Badan Pemeriksa Keuangan terhadap kasus Bank Century. Mahasiswa juga berharap pemerintah lebih meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Menurut mereka, hal ini dapat dilakukan dengan menuntaskan kelangkaan dan tidak menaikkan harga sembako, dan tarif listrik dan gas.

Unjuk rasa dilakukan pada saat Presiden Wakil Presiden terpilih dilantik di Gedung DPR/MPR Jakarta. Dengan beragam atribut mahasiswa terlibat aksi dorong dengan polisi. Massa mencoba mendekati gedung Istana Negara dengan membawa spanduk. Polisi menghadang mereka dengan menurunkan tim anjing.

Polisi berhasil meredam aksi mahasiswa sebelum situasi semakin memanas. Mahasiswa mengancam akan membuat kabinet bayangan untuk mengawasi prioritas kebijakan dalam 100 hari kerja Kabinet Indonesia Bersatu SBY-Boediono.(DOR)
———————————————————————————————–
Kondisi ini sangat berbeda ketika digelarnya KMII (Kongres Mahasiswa Islam Indonesia) tanggal 18 Oktober 2009 lalu. KMII yang awalnya akan dilangsungkan di Basket Hall, GBK terpaksa harus “tergusur” dan menjadi Kongres “jalanan” karna pencabutan izin kembali oleh Polri. Namun, selalu ada berkah dalam setiap peristiwa. Meski terpaksa hijrah ke pelataran parkir Basket Hall, hal ini justru memberikan keuntungan yang lebih di sana karna diadakan di tempat yang terbuka, maka semua aspirasi yang ingin disampaikan menjadi lebih luas jangkauan dengarnya..

Apa yang dikhawatirkan polisi ketika acara KMII berlangsung tidak pernah terbukti. Bapak polisi yang terhormat sibuk luntang lantung karna tidak tahu apa yang harus diamankan.