“Dosa-Dosa ‘Partai Islam’ Saat Ini”

1. Ikut mengokohkan hukum sekuler (kufur).

Koalisi yang mereka lakukan dengan partai sekuler mengokohkan keberadaan hukum ditangan manusia (asas demokrasi). Padahal pihak yang memiliki otoritas untuk menentukan hukum hanya Allah SWT. (baca, QS. Al Ma’idah 5 : 50 ; QS.Yusuf 12 : 40). Hukum thaghut yang seharusnya dibinasakan, malah mereka perkokoh.

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya” (QS. an-Nisaa’ 4 : 60)


2. Mereka telah melakukan penuhanan (mengingkari rububiyah Allah).

Tindakan koalisi seperti aktifitas point 1 berarti juga telah ikut serta dalam menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah atau mereka telah menjadi ‘tuhan’ yang berhak menetapkan hukum. Padahal tindakan seperti yang mereka lakukan adalah tindakan haram yang sudah jelas dinyatakan Allah dalam QS. At-Taubah 9 : 31. Dan ini berarti mengingkari rububiyah Allah.

3. Melakukan perjanjian Bathil.

Perjanjian yang mereka lakukan dengan partai sekuler adalah parjanjian yang jelas-jelas bathil sebab tidak berlandaskan Islam. “Tidak boleh ada perjanjian (yang bathil) dalam Islam” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Ahmad).

4. Mereka telah bekerja sama dalam kemungkaran.

Partai Islam saling berkerja sama dalam menjalankan dan mempertahankan platform sekuler. Aktifitas ini merupakan aktifitas yang tergolong tolong-menolong dalam hal dosa dan keharaman, yang sangat bertentangan dengan (QS. Al Ma’idah 5 : 2).

5. Mereka mencampur adukkan Haq dan Bathil.

Pada realitasnya, koalisi yang dilakukan partai Islam dengan partai sekuler, tidak lagi memperhatikan ideologi. Inti dari koalisi adalah kompromi. Akhirnya kompromi pun tidak lagi memperhatikan ideologi partai. Bahkan sering ideologi dikorbankan, diganti dengan pragmatisme dan kepentingan sesaat. Setiap kompromi saling mengorbankan keperntingan dan keyakinan sendiri dan meneriman keyakinan dan kepentingan mitra koalisi.Celakanya, kompromi itu terjadi antara hukum Islam dengan hukum sekuler, mencampurkan yang halan dan haram, perkara yang haq dengan perkara yang bathil. Tidak jarang, partai Islam tidak berani sekali pun hanya sekedar menyebut syariah. Tindakan seperti diatas adalah tindakan haram dan bertentangan dengan firman Allah SWT,

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah 2 : 42)

6. Mereka ridha akan keberadaan dan keabsahan partai sekuler, dan malah mendapat legalisasi serta pengakuan dari partai sekuler.

7. Menghalalkan berbagai macam cara (tidak lagi mempertimbangkan halal dan haram).

Dalam meraih kekuasaan partai-partai Islam, termasuk yang katanya “profesional” (mungkin profesional dalam hal membajak dalil-dalil untuk membenarkan prilaku mereka) menggunakan berbagai macam cara yang tidak halal. Tindakan yang tidak hanya sekedar memalukan ini, namun termasuk juga bagian dari cabang kemunafikan, diantaranya ;

7. A. Mereka tidak memperjuangkan sistem kehidupan Islam (tidak konsisten terhadap ideologi Islam).

Malah, parahnya ‘mereka’ menganggap era perjuangan ideologi sudah berakhir dan upaya memperjuangkan syariah tidak perlu lagi. Bahkan mereka menegaskan, “Soal syariah Islam dan sebagainya, sudah tidak relevan lagi”, ini dikatakan oleh salah satu pimpinan partai ‘profesional’. Memalukan !

7. B. Mereka menerima orang kafir sebagai anggota partainya. Inilah tindakan haram yang dilakukan partai Islam.

Padahal dalam QS. Ali Imran ayat 3 sudah jelas bahwa kelompok /partai Islam hanya beranggotakan kaum Muslim. Bahkan seorang tokoh partai Islam menyatakan bahwa partainya, “berhasrat merangkul semua suku maupun agama yang ada di Indonesia untuk memenuhi target perolehan suara 20 persen dalam pemilu 2009”. Lebih parah lagi, partai ini diberitakan sudah mempunyai caleg dari non-Muslim.

7. C. Mereka berkampanye dengan melanggar syariah Islam.

Memang, pada dasarnya berkampanye adalah mubah selama tidak melanggar syariat. Namun, ada partai Islam yang mengkampanyekan diri dengan cara melanggar syariat Islam. Misalnya, mengangkat bekas presiden Soeharto yang dlalim sebagai pahlawan atau guru bangsa ; kampanye yang disertai hiburan maksiat dan mengumbar aurat.

7. D. Mereka berpartisipasi (musyarakah) dalam pemerintahan kufur.

Padahal melakukan musyarakah dalam sistem pemerintahan sekuler haram dalam Islam. Sebab pemerintah yang sekuler tidak menerapkan hukum yang diturunkan oleh Allah.

Selanjutnya silahkan antum, “LANJUDKHAN !”
Rujukan : Al-Wa’ie

http://www.facebook.com/note.php?note_id=100345540291&id=1521662184&ref=mf

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s